Sabtu, 30 Maret 2013

My Sweet Memory


Dia pacar pertamaku. Saat itu aku masih kelas 2 SMA dan aku sekelas dengannya.
Aku tidak tahu kenapa aku bisa suka dengannya. Mungkin karena tinggi dan postur tubuhnya, mungkin karena sikap cuek dan pendiamnya, mungkin karena pintarnya, atau mungkin ini memang yang ditakdirkan tuhan ..

Aku tidak pernah merasa PDKT dengannya. Selama sekelas aku jarang dan hampir tidak pernah berbicara dengannya, biasanya kami hanya berkomunikasi melalui tatapan mata dan karena sikap grogiku aku akan langsung memalingkan muka atau mungkin aku akan langsung berkata padanya “ngapain liat-liat ?”. Ya, itu adalah sikap alamiku jika sedang malu atau grogi. Sampai suatu ketika dia menyatakan cinta. Aku ingat betul saat itu. Itu hari rabu, tgl 1 November 2006. Saat itu kami sedang mata pelajaran fisika dan kami belajar di lapangan. Saat itu seorang teman mengatakan bahwa dia hendak berbicara padaku. Tanpa ada perasaan curiga aku langsung saja menghampirinya. Saat itulah, di antara lapangan dan workshop sebelah lapangan voli dia menyatakan perasaannya padaku. Ini pertama kalinya aku mendengar pernyataan cinta langsung dari orang yang aku suka. Spontan saja aku berusaha menahan senyum kegembiraanku dan mukaku memerah seperti tomat. Karena saking groginya aku hanya bisa bengong sambil senyum-senyum malu. Saat dia menanyakan bersediakah aku menjadi kekasihnya, kata yang dapat aku keluarkan hanya “ah ?” dan aku menjawabnya dengan anggukan. Aahh, bahagianya aku saat itu. Dan semenjak itulah aku dan dia menjadi kami. Tapi kami harus menjalin hubungan ini sembunyi-sembunyi dari orang tuaku. Kasta, ya itulah masalah kami. Aku berkasta dan dia biasa.

Semakin aku dekat dengannya semakin dalam rasa sukaku padanya. Kadang kami bertengkar, itu lebih dikarenakan karena emosiku. Biasanya itu dikarenakan karena aku yang tidak suka dengan kebiasaanyya minum-minum, atau mungkin karena aku yang terlalu posesif. Tapi tak pernah kami bertengkar lebih dari 1 hari. Itu lebih dikarenakan karena sikapnya yang dewasa dan pengertian dan yang selalu dapat meluluhkan rasa marahku. Selama berpacaran kami bisa dikatakan sebagai pasangan yang irit, kami jarang pergi ke mall atau dinner di restaurant mewah. Itu lebih dikarenakan kesukaan kami yang sama, yaitu sama-sama suka dengan alam dan sama-sama senang mencari tempat baru.

Tanpa terasa kami sudah hampir menjalani hubungan ini selama satu setengah tahun. Sampai sebulan sebelum kami merayakan satu setengah tahun hari jadi, kami memutuskan untuk berpisah. Memang sebelumnya selama menjalani hubungan ini pernah kata pisah terucap. Tetapi itu hanya sekedar kata, dan karena kami masih saling menyayangi dan tak memandang kedepan kami masih tetap menjalani hubungan ini. Sampai kata pisah ini terucap tanpa alasan yang jelas. Dan kami setuju untuk berpisah, beruntung saat itu musim ujian. Ketika itu kami kelas 3 SMA, dan kami saling sibuk mempersiapkan diri untuk UAN, sehingga kami menjadi jarang bertemu di sekolah dan lebih memudahkan kami untuk saling melupakan. Tetapi ternyata itu keliru, setelah mengakhiri hubungan ini, kami tidak pernah benar-benar melupakan. Pernah aku menjalin hubungan dengan pria lain, dan diapun lebih sering menjalin hubungan dengan wanita lain. Namun diantara hubungan-hubungan lain yang pernah kami jalin, tidak pernah kami tidak memberikan kabar lebih dari sebulan, kadang kami bertemu dan pergi bersama. Kami tidak berselingkuh, itu karena hubungan kami hanya sekedar menanyakan kabar atau basa-basi tidak penting, namun hati kami masih saling menyayangi tanpa pernah saling mengungkapkan.

Akhirnya pada tahun 2008 kami kembali menjalin hubungan. Kami kembali bersama. Tetapi hubungan ini hanya bertahan selama 3 bulan. Dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini dengan alasan ‘bosan’. Dan aku ? untuk apa aku melanjutkan hubungan dengan orang yang sudah bosan untuk berada dalam suatu hubungan ? dan akhirnya aku mengiyakan perpisahan itu. Kami berpisah secara resmi untuk kedua kalinya. Sampai sebulan setelah perpisahan kedua kami dia mengajakku untuk bertemu. Dia ingin bercerita dan mengajakku mencari tempat baru. Begitu alasannya. Karena aku memang kangen dan rindu dengannya, maka aku mengiyakan ajakan itu. Dan saat itulah dia mengatakan alasan sebenarnya. Alasan sebenarnya penyebab kami berpisah. Dia berpikir hubungan kami tidaka kan bisa berlanjut. Kembali pada permasalahan awal yang selalu coba kami acuhkan. Alasan terbesar dan paling pintar kami sembunyikan. Kasta, perbedaan itu. Dia mengatakan dia tak ingin membuatku susah untuk memilih diantara dia ataupun keluargaku, dan dia memutuskan untuk mundur.

Kamu tau rasanya mendengar alasan itu ? sedih, marah, kecewa .. semua perasaan itu campur aduk menjadi satu. Seandainya saja dia mau memperjuangkanku, akupun mau ikut berjuang bersamanya, berjuang bersama untuk mendapatkan restu dari orang tuaku. Tetapi dia memutuskan untuk mundur dan menyerah. Dan untuk apa aku memperjuangkan orang yang tidak mau berjuang untukku ? dan lagi-lagi aku berpisah. Perpisahan ini sudah membuatku sadar bahwa kami tidak mungkin untuk kembali lagi. Namun hati kami masih bersama. Kami kembali pada hubungan kami sebelumnya, menjadi sahabat namun hati dan perasaan masih saling menyayangi.

Sampai pada suatu ketika di tahun 2012. Dia tidak berkabar. Kali ini lebih dari sebulan, bahkan hampir 2 bulan dia tidak berkabar. Memang dari pertemuan sebelumnya dia pernah mengaku jujur bahwa dia memiliki pacar, dan aku mengatakan dengan tegas, bahwa jika dia memiliki pacar, tolong jangan hubungi aku, karena aku tak ingin merasa bersalah dan menjadi wanita jahat dihapadan pacarnya. Dan akupun menyimpulkan bahwa dia masih memliki pacar. Aku hanya dapat menahan rasa rinduku. Karena aku tak ingin mengganggu hubungannya dengan pacar barunya. Dan pada akhir tahun 2012 aku mendengar kabar bahwa dia telah menikah. Entahlah, apa itu hanya sekedar kabar atau memang benar bahwa dia telah menikah.
Dan aku ? bagaimana denganku ? sudah hampir 5 tahun semenjak kami mengakhiri hubungan keduaku dengannya. Dia yang sudah berkali-kali berpacaran dengan wanita lain, namun aku masih tetap terpaku menatap masa lalu. Mungkinkah aku trauma dengan hubungan ini ? mungkinkan aku yang takut jatuh cinta dan terlalu menyayangi seseorang namun harus berpisah kembali atas nama kasta dan perbedaan ? akupun ingin seperti dia. Menganggap bahwa masa dahulu hanya masa lalu dan dapat melanjutkan kehidupan sebagaimana mestinya. Seharusnya aku tidak terpaku pada masa lalu.

“harusnya aku tlah melewatkanmu, menghapuskanmu dari dalam benakku.”
-Adera_melewatkanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar